Search

Bupati Ketapang Ingatkan Warga Waspada Cuaca Ekstrem dan Ancaman Karhutla di Musim Kemarau 2026



KETAPANG — Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengimbau seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang berpotensi memicu kekeringan, cuaca ekstrem, kabut asap, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta informasi dari BPBD Kabupaten Ketapang, musim kemarau diperkirakan berlangsung mulai Juni hingga sekitar Oktober 2026. Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September.

Kondisi tersebut membuat risiko kekeringan dan karhutla perlu diantisipasi secara bersama. Terlebih, kebakaran yang bermula dari sumber api kecil dapat dengan cepat meluas ketika kondisi lahan kering dan cuaca mendukung.

Alexander Wilyo meminta masyarakat menggunakan air bersih secara bijak dan efisien selama musim kemarau. Penghematan air dinilai penting untuk mengantisipasi potensi berkurangnya ketersediaan air akibat kondisi kering berkepanjangan.

Selain persoalan ketersediaan air, masyarakat juga diminta memperhatikan kualitas udara. Penggunaan masker dianjurkan ketika beraktivitas di luar rumah, terutama apabila terjadi penurunan kualitas udara akibat kabut asap.

Bupati Ketapang juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Praktik pembakaran lahan berpotensi menjadi pemicu karhutla dan dapat menyebabkan api menyebar ke area yang lebih luas. Karena itu, masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran, termasuk pada lahan yang berada di sekitar permukiman maupun kawasan perkebunan.

Kewaspadaan juga perlu dilakukan terhadap sumber api kecil. Puntung rokok yang dibuang sembarangan maupun sumber api lainnya dapat menjadi pemicu kebakaran apabila berada di kawasan yang memiliki material mudah terbakar.

Masyarakat juga diminta mengikuti setiap imbauan dan arahan pemerintah yang disampaikan melalui berbagai saluran informasi, mulai dari media massa, media sosial, radio, baliho, hingga kanal resmi pemerintah lainnya.

Alexander Wilyo turut mengajak perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan untuk memperkuat langkah pencegahan serta penanganan karhutla bersama pemerintah dan masyarakat.

Kolaborasi antarpihak dinilai penting mengingat ancaman karhutla tidak dapat ditangani oleh pemerintah semata. Kesiapsiagaan, deteksi dini, respons cepat, serta kepedulian terhadap kondisi lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama.

“Karhutla bukan hanya menjadi persoalan pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama,” demikian inti pesan dalam imbauan tersebut.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat meningkatkan kepedulian, kewaspadaan, dan semangat gotong royong untuk mencegah terjadinya kebakaran sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Masyarakat yang menghadapi keadaan darurat dan tidak dapat menangani situasi secara mandiri diminta segera melaporkannya kepada Pusat Pengendalian Operasi BPBD Kabupaten Ketapang.

Layanan pengaduan dapat dihubungi melalui WhatsApp pada nomor:

0852-5215-3025
0852-4744-1113

Kecepatan masyarakat dalam melaporkan potensi maupun kejadian kebakaran menjadi bagian penting dari upaya penanganan dini.

Melalui peningkatan kewaspadaan dan koordinasi seluruh pihak, Pemerintah Kabupaten Ketapang berharap musim kemarau 2026 dapat dilalui dengan kondisi yang aman dan terkendali.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla dimulai dari kepedulian setiap individu. Menjaga lingkungan, menghemat air, menghindari pembakaran lahan, serta segera melaporkan kondisi darurat merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi keselamatan bersama.

Salam Tangguh.

0 Komentar